Belajar Filsafat, Mengubah Cara Saya Mendidik

Saya tidak pernah menyangka bahwa belajar filsafat akan mengubah cara saya mengajar di kelas. Awalnya, saya kira filsafat itu berat, teoritis, dan jauh dari dunia nyata—apalagi dunia kelas yang penuh dinamika, tantangan, dan kadang serba tidak ideal. Tapi ternyata, semakin saya mendalaminya, semakin saya merasa seperti dibukakan mata. Filsafat justru membuat saya memandang kembali apa makna sejati dari mendidik.

Brain, tree and cave. Concept idea of mind, nature and spiritual. Surreal art. landscape painting. fantasy artwork. conceptual illustration.

Di kelas, saya sering mencoba berbagai strategi pembelajaran, tergantung topik yang sedang diajarkan. Tapi satu hal yang selalu saya lakukan adalah melemparkan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa—kadang pertanyaan serius, kadang juga yang menggelitik logika mereka. Saya suka ketika mereka tampak berpikir, diam sejenak, lalu mulai berdiskusi atau bahkan berdebat. Saya sering sengaja memulai pelajaran dengan sebuah permasalahan—sebuah skenario atau situasi yang butuh dipikirkan dan dianalisis. Dan dari situlah, biasanya muncul antusiasme mereka.

Saya percaya bahwa untuk bisa memecahkan masalah dengan baik, kita harus berpijak pada kebenaran yang objektif—kebenaran yang bisa diuji, didukung oleh bukti nyata, bukan hanya perasaan atau opini. Dan saya baru sadar, pola pikir ini ternyata sangat Platonis. Plato menekankan pentingnya pengetahuan yang didasarkan pada kebenaran dan logika, bukan asumsi belaka. Dan tanpa saya sadari, saya sudah menerapkan pandangan Plato dalam gaya mengajar saya.

Tapi kelas bukan ruang hampa. Siswa saya datang dari berbagai latar belakang—ada yang cepat menyerap materi, ada yang butuh waktu. Ada yang sangat vokal, ada juga yang pendiam. Ada yang berasal dari keluarga yang mendorong mereka aktif belajar, dan ada juga yang bahkan tidak yakin mengapa mereka harus belajar. Keragaman ini awalnya membuat saya bingung. Tapi setelah belajar filsafat, terutama dari pemikiran Gadamer, saya mulai melihat bahwa setiap siswa membawa “dunia” mereka sendiri ke dalam kelas.

Gadamer bicara tentang pentingnya dialog—bukan hanya dalam arti percakapan, tapi sebagai pertemuan antara dua dunia. Maka dari itu, saya mulai membiasakan diri untuk lebih banyak mendengarkan. Saya coba pahami dari mana siswa ini berpikir, apa latar belakang yang membentuk sikap mereka di kelas. Saya juga mulai menerapkan pembelajaran diferensiasi, yaitu dengan mengelompokkan siswa berdasarkan kemampuan kognitif mereka. Awalnya saya ragu. Bukankah itu seperti memberi label? Tapi nyatanya, justru ketika saya mengenali kekuatan dan kelemahan mereka, saya bisa memberikan pendekatan yang lebih tepat.

Gadamer

Saya juga menyadari, bahwa guru bukanlah makhluk yang sudah jadi dan selesai belajar. Justru sebaliknya. Kita ini pembelajar seumur hidup. Dan untuk menjadi guru yang relevan dengan zaman, kita tidak bisa terus-terusan memakai metode lama. Saya ingat sekali saat pertama kali mencoba menggunakan teknologi di kelas—rasanya canggung, kagok, dan sempat merasa “wah, ini bukan gaya saya.” Tapi justru dari situ saya belajar.

Pemikiran Martha Nussbaum sangat menyentuh saya dalam hal ini. Ia bicara tentang pentingnya humanitas dalam pendidikan, dan bahwa guru punya tanggung jawab untuk terus berkembang. Menurut saya, mengevaluasi diri itu penting. Saya mulai membuat kebiasaan mengecek kembali materi dan cara saya menyampaikan. Kadang saya rekam diri saya saat mengajar, lalu saya tonton ulang—sambil menahan malu tentunya, haha. Tapi dari situlah saya tahu bagian mana yang perlu diperbaiki.

Di sisi lain, saya juga prihatin melihat kenyataan di beberapa sekolah, khususnya di jenjang SMA. Banyak siswa yang tampaknya belajar tanpa tahu arah. Mereka hafal rumus, kerjakan soal latihan, tapi kalau ditanya “mau jadi apa?”, atau “kenapa kamu belajar ini?”, mereka bingung. Ada yang jawab karena disuruh orang tua, ada juga yang jujur bilang, “nggak tahu, Pak.”

Menurut saya, ini alarm penting. Kita perlu membuat pembelajaran menjadi sesuatu yang bermakna bagi mereka. Salah satu pendekatan yang saya yakini adalah pembelajaran berbasis proyek. Dalam model ini, siswa tidak hanya duduk mendengarkan, tapi benar-benar terlibat dalam memecahkan masalah nyata, melakukan penelitian, dan menyajikan hasilnya. Bahkan, menurut saya akan lebih kuat lagi kalau sekolah bisa bekerja sama dengan perusahaan atau institusi di luar. Misalnya, siswa magang atau terlibat langsung dalam proyek lapangan.

Saya membaca tentang bagaimana Finlandia menerapkan pendekatan berbasis fenomena (phenomenon-based learning), dan saya berpikir: mengapa ini tidak bisa diterapkan di sini? Paulo Freire pernah menulis bahwa pendidikan harus membebaskan, bukan menindas. Dan saya rasa, ketika siswa diajak untuk mengalami dunia nyata, mereka justru belajar jauh lebih banyak daripada sekadar menghafal.


✨ Penutup

Belajar filsafat tidak mengubah saya secara instan, tapi ia membentuk cara saya melihat. Sekarang, setiap kali saya merancang pembelajaran, saya tidak hanya berpikir soal “apa yang diajarkan,” tapi juga “mengapa ini penting?” dan “bagaimana ini akan bermakna bagi siswa saya?”

Saya jadi lebih sabar, lebih reflektif, dan lebih terbuka terhadap dialog dengan siswa. Filsafat memang tidak memberikan semua jawaban, tapi ia memberi saya alat untuk terus bertanya—dan dari sanalah, saya merasa menjadi guru yang lebih manusiawi.

Dan mungkin itulah intinya: bahwa mendidik itu bukan hanya soal mengajar, tapi juga soal menemani tumbuh.

Share it!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *