Mengapa hal ini penting?
Kita seringkali mendengarkan kata teknologi belakangan ini. Teknologi memang seringkali dikaitkan dengan dunia digital, padahal arti teknologi sendiri itu adalah sesuatu hal yang baru, diciptakan oleh manusia dan untuk manusia. Karena memang sekarang sudah memasuki dunia digital, jadi teknologi indentik dengan dunia digital seperti smartphone, laptop, AI robot, e-payment dan masih banyak hal lainnya.
Banyak hal yang menarik di dunia teknologi saat ini, kita dapat melihat sekarang banyak perusahaan-perusahaan startup yang bergerak di dunia digital dan banyak sekali yang membuka kesempatan untuk para siswa berkarir sebagai engineer. Dan juga tentunya dalam kehidupan kita selalu bergantung pada perangkat-perangkat digital untuk membantu kita. Salah satu perangkat yang hampir setiap individu memilikinya adalah smartphone.
Smartphone atau perangkat teknologi lainnya tentu saja diciptakan untuk membantu manusia, memberikan kemudahan bagi para pengguna. Namun apakah perangkat-perangkat teknologi tersebut bisa sepenuhnya memberikan pengaruh positif kepada manusia? Jawabannya belum tentu, bisa saja memberikan pengaruh negatif. Menurut Annisa & Farida (2019) keterbukaan akses teknologi seperti melalui smartphone saat ini tidak selalu memberikan dampak positif, efek negatif yang paling sering ditemukan ketika kecanduan menggunakan smartphone adalah menurunnya prestasi akademik remaja. Dan juga menurut Lim & You (2018), kemampuan mengendalikan diri dan perasaan terisolasi juga menentukan sejauh mana remaja teradiksi smartphone.
Maka dari itu diperlukan ilmu teknologi pendidikan, yang mana di dalamnya bukan saja hanya membahas cara penggunaan aplikasi teknologi secara teknis dalam dunia pendidikan, tetapi juga nilai-nilai positif yang harus diajarkan kepada para siswa dalam pembelajaran menggunakan teknologi.
Bagaimana cara menerapkannya?
Pada tahun 90-an mungkin anak-anak diperkenalkan televisi. Bukan rahasia lagi anak-anak sekarang sudah diperkenalkan gadget oleh orang tuanya, banyak aplikasi seperti untuk menonton video, bermain game dan sebagainya. Penelitian terus dilakukan akan ketergantungan menggunakan gadget terhadap perkembangan anak. Maka dari itu mendidik dan membimbing anak-anak tentang ilmu teknologi sangat penting, agar tahu keberadaan teknologi, teknologi diciptakan untuk mempermudah untuk mengerjakan sesuatu dan membantu memecahkan masalah dan tidak ketergantungan akan hiburan yang ada di dunia teknologi.
Saya mau membagikan pengalaman saya dalam menggunakan teknologi di dalam kelas, seperti menggunakan komputer. Saya mengajar ilmu komputer saat ini di salah satu sekolah swasta di Jakarta. Saya tidak hanya mengajarkan bagaimana menggunakan sebuah aplikasi atau perangkat lunak kepada para siswa, namun saya juga mengajarkan ilmu literasi digital. Salah satu pelajaran yang sangat penting menurut saya digital citizenship, bagaimana sosial dan berbudaya menggunakan teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Saya biasanya melihat kurikulum digital citizenship di commonsense
Contoh pada anak-anak usia dini, biasanya di kebanyakan sekolah di Indonesia saat ini tidak menyediakan dan mengijinkan penggunaan gadget seperti tablet untuk mendukung pembelajaran. Ini menurut pandangan saya, saya kurang setuju akan hal ini, karena sebaiknya kita memperkenalkan gadget kepada anak-anak dari usia 3 tahun. Seperti contohnya tablet bisa digunakan untuk belajar tentang pemrograman atau mengenal robotika dasar, bisa juga mengunduh aplikasi di dalamnya yang melatih daya berpikir dan motorik mereka. Namun juga harus dibatasi waktu penggunaan tablet misalnya hanya 30–60 menit sehari. Aplikasi-aplikasi yang akan digunakan harus dilakukan riset terlebih dahulu oleh para guru apakah memang bermanfaat dan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang sudah dibuat, dengan melihat kompetensi dan indikator yang hendak dicapai.
Saya pernah sekali mengajarkan pada anak umur 3–4 tahun tentang robotika, alat yang digunakan adalah robot sederhana. Pengenalan akan robot menurut saya penting bagi anak-anak. Saya mengajarkan bagaimana menggerakan program sesuai dengan blok-blok yang sudah disusun. Robot yang saya gunakan robot matatalab. Tentu saja anak-anak sangat suka karena selain bentuknya menarik dan robot ini memiliki keterampilan bisa memainkan musik. Waktu saya mengajar tentang bagaimana menggerakan robot ini, saya juga mengajarkan tentang nilai-nilai, seperti memberikan mereka contoh robot atau mesin otomasi yang ada di dunia saat ini. Ini dapat memberitahu mereka keberadaan mereka, menginspirasikan mereka untuk nanti ke depannya dapat menciptakan hal yang baik untuk manusia.
Saya juga pernah mengajarkan robot yang berbeda yaitu robot photon, robot ini memerlukan gadget untuk menggunakannya. Anak-anak tentu saja sudah tahu tablet dan sudah ada beberapa anak yang mahir menggunakan. Saya biasanya menggunakan catatan kecil untuk membantu saya mengingat aturan-aturan dan langkah-langkah menggunakan tablet. Strategi mengajar juga perlu disusun seperti mempersiapkan reward atau hukuman bagi yang melanggar, saya suka memberikan hukuman yang bersifat positif bagi anak-anak. Hukuman positif maksudnya apa, memberi hukuman yang tidak mengambil kesempatan anak untuk mendapatkan pengetahuan atau waktu kesenangan mereka. Dalam hal ini contohnya belajar robot menggunakan tablet, ada pernah kasus seorang anak terus saja asik bermain sendiri tanpa mendengarkan instruksi. Saya langsung memanggil anak itu untuk berbicara dengan saya dan menanyakan hal apa yang harus dikerjakan, dan meminta anak tersebut untuk mengerjakan soal latihan yang diberikan di tempat sambil mempresentasikan ke teman-temannya di depan kelas. Untuk reward tentu saja mereka bisa bermain bebas dengan robotnya apabila sudah menjawab semua soal latihan dengan baik dengan waktu yang sudah ditentukan. Sejauh ini strategi yang efektif. Setelah pelajaran selesai saya meminta mereka untuk membantu merapihkan, ini juga merupakan nilai yang harus ditanam, kemandirian dan tanggung jawab.
Dari pengalaman saya dapatkan perlunya dimasukkan kompetensi dan indikator sikap yang harus dicapai oleh siswa di dalam setiap pembelajaran. Jadi kalau saya membuat RPP, di dalamnya menggunakan proses 5E (Engage, Explore, Explain, Ellaborate, Evaluate) kelima tahap ini harus ada di dalam aktivitas pembelajaran. Saya juga menyisipkan pengalaman-pengalaman saya dan para ahli dalam menggunakan teknologi yang akan dipelajari pada saat itu, soft skills yang mengacu pada 21st century skills (6C) dan nilai-nilai karakter juga penting dimasukan seperti kemandirian, tanggung jawab, tenggang rasa, dan lainnya.
Kesimpulan
Ada hal yang membuat saya tertarik akan pendidikan, karena pendidikan itu proses, dan tak akan pernah berhenti. Saya ingin menambahkan nilai-nilai pancasila yang harus dicapai oleh siswa di setiap pembelajaran. Untuk hal ini tentu saja bukan hanya RPP yang harus dipersiapkan, namun juga asesmen dan rubrik penilaian yang akan digunakan untuk mengetahui hasil dari kegiatan pembelajaran.
Mengajarkan teknologi kepada anak sangat penting dari usia dini, cara memperkenalkan mereka keberadaannya harus tepat sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku. Tidak hanya cara menggunakan sebuah perangkat atau aplikasi teknologi tapi juga harus tahu nilai-nilai positif dan negatif yang akan ditimbulkan oleh teknologi tersebut.