Dengan menjadwalkan waktu secara rutin untuk bimbingan dan peluang pembelajaran profesional, para pemimpin sekolah dapat terhindar dari rasa kesepian dalam peran mereka.
đź“… Diterbitkan: 24 Juni 2025
✍️ Oleh: Robert Feirsen & Seth Weitzman
đź”— Sumber Asli: Edutopia.org
Tantangan Besar, Tuntutan yang Meningkat
Tidak diragukan lagi bahwa sekolah-sekolah di Amerika—dan para administrator yang memimpinnya—menghadapi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Coba bayangkan dampak gabungan dari perubahan kurikulum yang drastis, generasi siswa yang rapuh dan sering disebut “Generasi Cemas”, kesenjangan pembelajaran pasca-Covid, perkembangan AI, komunitas yang terpolarisasi, tuntutan akuntabilitas, serta kekhawatiran terhadap kesehatan dan keselamatan.
Bagi para pemimpin sekolah, pembelajaran berkelanjutan adalah hal yang sangat penting: hanya dengan cara itulah mereka bisa mengikuti perkembangan, memahami praktik baru, dan memperbarui keterampilan kepemimpinan mereka.
Rasa Sepi di Puncak Kepemimpinan
Banyak pemimpin sekolah yang merasa bahwa pepatah “It’s lonely at the top” (sepi di puncak) benar adanya—terutama dalam hal pengembangan profesional.
Di sekolah dasar, mungkin ada puluhan guru dengan peran serupa yang bisa saling belajar dan berbagi. Namun, tim administratif seringkali hanya terdiri dari satu kepala sekolah dan mungkin satu wakil kepala sekolah, sehingga sangat sedikit peluang untuk membangun komunitas belajar yang sejati.
Padahal, penelitian menunjukkan bahwa pengembangan profesional paling efektif saat dilakukan secara kolaboratif, bukan sendirian.
Apa yang Diinginkan Para Kepala Sekolah?
Penelitian Developing Expert Principals: Professional Learning That Matters mengidentifikasi tiga karakteristik pengembangan profesional yang berdampak bagi kepala sekolah:
-
Pendampingan individual (mentoring atau coaching)
-
Keterlibatan dalam komunitas belajar
-
Pembelajaran yang aplikatif, bukan sekadar teori
PD seperti ini terbukti meningkatkan retensi guru, efektivitas pelatihan guru, dan berdampak positif pada hasil belajar siswa.
Survei tahun 2022 oleh Education Week dan Wallace Foundation mengungkap bahwa para kepala sekolah lebih memilih workshop tatap muka dengan administrator dari berbagai distrik, daripada sesi daring.
Menariknya, kepala sekolah di wilayah pedesaan justru paling ingin bertemu langsung (73%), meskipun logistiknya lebih sulit.
Hanya separuh responden yang menganggap PD yang disediakan distrik mereka bersifat berkelanjutan. Dan 23% mengatakan mereka jarang atau bahkan tidak pernah diajak berdiskusi soal kebutuhan pengembangan profesional mereka sendiri—padahal relevansi adalah kunci dari pembelajaran yang efektif.
Kebutuhan Akan Otonomi dalam Belajar
Pembelajaran orang dewasa yang bermakna, termasuk untuk kepala sekolah, membutuhkan tingkat kendali atas isi dan format pembelajaran. Artinya, distrik sebaiknya memberikan kepala sekolah ruang untuk memilih:
-
Konferensi apa yang mereka hadiri
-
Fokus studi atau tema belajar
-
Kunjungan ke sekolah lain
-
Dan bahkan topik dalam rapat kepemimpinan distrik
Salah satu kepala sekolah mengatakan,
“Cukup ngobrol dengan kepala sekolah lain sering kali jadi cara belajar terbaik.”
Apa Bentuk PD Terbaik untuk Kepala Sekolah?
1. Mentoring dan Coaching
Pendampingan jangka panjang (minimal 3 tahun untuk kepala sekolah baru, dan periodik bagi semua) sangat disarankan. Yang terpenting adalah kehadiran rasa percaya. Para kepala sekolah harus merasa aman untuk berbagi tantangan tanpa takut penilaian, agar sesi mentoring benar-benar menjadi ruang belajar yang jujur dan reflektif.
2. Komunitas Belajar Profesional (PLC)
Salah satu pengalaman PD terbaik penulis terjadi saat bergabung dengan PLC yang terdiri dari 12 kepala sekolah SMP dari seluruh AS, menggunakan aplikasi suara Voxer untuk saling berbagi praktik baik dan menyelesaikan masalah nyata.
Saran kami: jangan hanya berkomunikasi via teks atau email. Luangkan waktu untuk sesekali bertemu langsung atau video call—agar relasi menjadi lebih personal dan mendalam.
Ingin membuat PLC? Mulai dari kecil. Ajak rekan satu distrik, teman kuliah pascasarjana, atau kenalan dari konferensi. Pilih artikel atau buku untuk dibaca bersama, atau diskusikan pertanyaan reflektif mingguan.
3. Menjadwalkan Waktu Khusus untuk PD
Hari-hari kepala sekolah sering berjalan sangat cepat. Banyak dari kita merasa seperti melewatkan Selasa dan Rabu begitu saja.
Luangkan waktu secara khusus di kalender untuk PD pribadi, misalnya dua jam tiap dua minggu. Jangan izinkan interupsi kecuali keadaan darurat. Ini yang disebut oleh konsultan manajemen sebagai “think time”.
Gunakan waktu itu untuk:
-
Membaca jurnal profesional
-
Mengikuti webinar dengan fokus penuh
-
Mengamati sekolah lain
-
Diskusi reflektif dengan sesama kepala sekolah
-
Meninjau hasil pembelajaran siswa bersama rekan
Penutup: PD Bukan Tambahan, Tapi Prioritas
Tugas kepala sekolah semakin kompleks. Maka, kebutuhan akan pembelajaran profesional juga semakin mendesak.
Pengembangan profesional bukanlah tambahan. Ia adalah fondasi.
Berinvestasilah dalam waktu dan sumber daya untuk pengembangan pemimpin sekolah—karena saat pemimpin berkembang, seluruh komunitas sekolah ikut bertumbuh.
