Dampak Mengejutkan: 1 dari 12 Siswa Sekunder Diisolasi Setiap Minggu
Sebuah studi besar-besaran di Inggris mengungkap fakta yang mengkhawatirkan tentang praktik isolasi (atau internal exclusion) di sekolah menengah. Praktik ini, di mana siswa dikeluarkan dari kelas dan ditempatkan di ruangan terpisah, ternyata jauh lebih umum dan memiliki dampak yang lebih serius daripada yang disadari.  

Temuan Utama yang Perlu Anda Ketahui:

  • Sangat Umum: Satu dari 12 (8,3%) siswa melaporkan ditempatkan di ruang isolasi setidaknya sekali seminggu.
  • Waktu Belajar Hilang: Rata-rata, siswa menghabiskan 8,5 jam per minggu di isolasi, yang berarti mereka kehilangan lebih dari satu hari penuh pelajaran.
  • Ketidakadilan yang Disorot: Isolasi diterapkan secara tidak proporsional kepada kelompok-kelompok yang paling membutuhkan dukungan:
    • Siswa dengan kebutuhan pendidikan khusus (SEN) dua kali lebih mungkin diisolasi.
    • Siswa dari keluarga berpenghasilan rendah (penerima makanan sekolah gratis) lebih dari satu setengah kali lebih mungkin diisolasi.
    • Siswa yang mengidentifikasi sebagai LGBTQ+ hampir dua kali lebih mungkin diisolasi.
    • Siswa Kulit Hitam, Asia, dan keturunan campuran juga lebih mungkin diisolasi daripada rekan-rekan mereka dari kelompok kulit putih Inggris.
  • Dampak Negatif: Siswa yang diisolasi melaporkan bahwa rasa memiliki mereka di sekolah menurun, hubungan mereka dengan guru memburuk, dan tingkat kesejahteraan mental mereka menjadi lebih rendah.
 

Dampak Mengejutkan: 1 dari 12 Siswa Sekunder Diisolasi Setiap Minggu

Apa Itu Isolasi dan Mengapa Ini Menjadi Masalah?

Isolasi adalah tindakan mengeluarkan siswa dari kelas karena perilaku mengganggu, meminta mereka bekerja sendiri atau dalam keheningan di ruangan terpisah. Masalah utamanya adalah kurangnya peraturan nasional tentang cara atau durasi penggunaannya, dan tidak adanya data nasional yang tersedia untuk umum. Para peneliti di University of Manchester menemukan bahwa meskipun tujuannya adalah menciptakan lingkungan belajar yang lebih baik, praktik ini justru "tersembunyi dari pandangan" dan sering digunakan untuk pelanggaran aturan minor yang mungkin sulit dipatuhi oleh siswa dengan perilaku kompleks atau kebutuhan khusus.  

Solusi dan Seruan untuk Perubahan

Para peneliti dan pakar pendidikan sepakat bahwa isolasi bukanlah solusi jangka panjang.
  • Fokus pada Dukungan: Ada seruan untuk investasi pada dukungan perilaku yang positif, pendekatan restoratif, dan penyediaan layanan kesehatan mental yang lebih baik—strategi yang menjaga anak-anak tetap terhubung dengan pembelajaran dan komunitas sekolah mereka.
  • Transparansi Wajib: Ada tuntutan agar pemerintah memberlakukan pelaporan wajib atas penggunaan isolasi di sekolah-sekolah, sama seperti yang sudah dilakukan untuk skorsing dan pengeluaran permanen.
Seperti yang dikatakan oleh Profesor Neil Humphrey, pemimpin studi ini: "Kami tahu sekolah menghadapi tekanan besar dalam mengelola perilaku, tetapi bukti kami menunjukkan isolasi bukanlah solusinya."

Ingin Tahu Lebih Lanjut?

Apakah Anda seorang orang tua, pendidik, atau hanya peduli dengan masa depan anak-anak, temuan ini menunjukkan perlunya dialog terbuka dan perubahan kebijakan mendesak. Bagaimana menurut Anda? Apakah isolasi adalah alat yang diperlukan untuk menjaga ketertiban, ataukah ini merupakan hukuman yang tidak proporsional yang merugikan siswa yang paling rentan?  

Sumber:

Artikel ini merangkum hasil penelitian yang dilaporkan oleh Sally Weale di The Guardian pada 23 Oktober 2025. Baca selengkapnya di: The Guardian: One in 12 secondary pupils put in isolation rooms at least once a week, study finds
Share it!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *