Wajah Baru Harvard: Mahasiswa Asia-Amerika Bertambah, Mahasiswa Kulit Hitam dan Hispanik Menurun Tajam

Wajah Baru Harvard Setelah Larangan Affirmative Action

Perubahan besar sedang terjadi di kampus-kampus elit Amerika. Angka penerimaan mahasiswa baru di Harvard tahun ini memberikan gambaran yang jelas: larangan Mahkamah Agung pada kebijakan affirmative action tahun 2023 kini benar-benar terasa dampaknya pada keragaman ras. Data terbaru dari Harvard menunjukkan ada pergeseran komposisi etnis yang cukup dramatis, dengan penurunan tajam pada mahasiswa kulit hitam dan Hispanik, sementara jumlah mahasiswa Asia-Amerika melonjak.

The changes in the racial makeup of Harvard’s incoming class were more pronounced this year. Credit: Sophie Park for The New York Times

 

Angka-Angka Penurunan yang Mengkhawatirkan

Angkatan mahasiswa baru Harvard tahun ini mencatat penurunan signifikan, yang membalikkan tren keragaman yang sudah dibangun sejak tahun 1960-an:
  • Mahasiswa Kulit Hitam (Black): Turun menjadi 11,5% dari 14% tahun lalu dan 18% pada tahun 2023 (sebelum larangan).
  • Mahasiswa Hispanik (Hispanic): Mengalami penurunan yang lebih tajam, menjadi hanya 11% dari 16% pada tahun lalu.
Di sisi lain, mahasiswa Asia-Amerika mengalami peningkatan. Kelompok ini sekarang mencapai 41% dari kelas mahasiswa baru, naik dari 37% tahun lalu (dan sama dengan angka tahun 2023). Harvard sendiri memilih untuk tidak merilis angka untuk mahasiswa kulit putih.  

Bukan Hanya Harvard: Tren di Sekolah Lain

Fenomena ini bukan hanya terjadi di Harvard. Data yang dianalisis oleh James Murphy dari Education Reform Now menunjukkan tren serupa di hampir semua institusi yang sangat selektif.
  • Princeton mengalami perubahan mengejutkan tahun ini. Setelah tahun lalu angkanya relatif stabil, tahun ini pendaftaran mahasiswa kulit hitam anjlok menjadi 5%, yang merupakan angka terendah sejak tahun 1968. (Angka tahun lalu adalah 8,9%). Sementara itu, mahasiswa Asia-Amerika di Princeton naik menjadi 27,1% dari 23,8%.
Para ahli, seperti Profesor Justin Driver dari Yale Law School, khawatir tren ini hanyalah awal dari "gambaran yang tidak menarik" bagi masa depan pendidikan tinggi di Amerika.  

Konteks di Balik Pergeseran

Mengapa perubahan ini begitu penting? Karena kampus-kampus ini adalah jalur utama menuju kekuasaan dan pengaruh dalam masyarakat Amerika. Tekanan Pemerintahan dan Kontroversi Tes
  1. Pengawasan Pemerintah: Pemerintahan Trump aktif mencari cara untuk membuktikan apakah universitas menggunakan "proksi rasial tersembunyi" dalam penerimaan, mengartikan putusan Mahkamah Agung secara lebih luas. Hal ini membuat banyak sekolah ragu-ragu merilis data.
  2. Kembalinya Tes Standar: Tahun ini adalah kali pertama sejak pandemi Harvard kembali mewajibkan pelamar menyerahkan nilai tes standar. Meski jumlah pelamar menurun, angkanya masih 10% lebih tinggi dari sebelum pandemi.
Gugatan oleh Students for Fair Admissions—organisasi yang berhasil menggugat affirmative action—sebelumnya menuduh bahwa Harvard mendiskriminasi pelamar Asia-Amerika yang berprestasi tinggi dengan memberikan "keuntungan" kepada kelompok ras minoritas lain yang nilai tesnya mungkin lebih rendah. Kenaikan persentase Asia-Amerika tahun ini tampaknya mencerminkan keputusan tersebut.  

Keragaman Data yang Sulit Dibandingkan

Meskipun trennya jelas, data dari berbagai universitas sulit dibandingkan langsung. Contohnya, Princeton melaporkan kategori multiras terpisah (7,7%), sementara Harvard memasukkan pelamar multiras ke dalam persentase masing-masing ras yang mereka identifikasi. Selain itu, 8% mahasiswa baru Harvard memilih untuk tidak melaporkan ras mereka sama sekali. Meski diterpa perubahan dan tekanan, Harvard menekankan komitmen mereka pada akses dan kesempatan, dengan 21% dari angkatan baru (Class of 2029) adalah mahasiswa berpenghasilan rendah yang memenuhi syarat Pell Grants, dan 45% akan kuliah tanpa biaya tuition berkat bantuan finansial yang diperluas.    

Referensi:

Share it!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *